Saikyō gyangu no rīdā, yowasa o yosoou
Hujan turun tanpa suara di kota ini. Lampu neon memantul di aspal basah, menyinari bayangan orang-orang yang hidup di antara hukum dan kekerasan. Di dunia ini, yang kuat berteriak. Yang lemah diinjak. Dan yang bodoh mati lebih dulu. Semua orang percaya kekuatan terlihat dari otot, senjata, dan jumlah anak buah. Mereka salah. Karena penguasa sejati tidak berdiri di garis depan. Ia duduk di balik layar, diam, menunggu, dan membiarkan dunia bergerak sesuai kehendaknya. Di sudut kota, ada seorang pria yang selalu diremehkan. Langkahnya ringan. Tatapannya biasa. Tak ada yang mengira namanya tercatat di puncak hierarki dunia bawah tanah. Ia tersenyum saat dihina. Menunduk saat dilecehkan. Bukan karena lemah— melainkan karena belum waktunya dunia tahu siapa dirinya sebenarnya. Saat malam semakin gelap dan keseimbangan kota mulai runtuh, topeng itu perlahan retak. Dan ketika ia akhirnya berdiri… seluruh kota akan mengingat satu pelajaran sederhana: Kekuatan terbesar adalah kemampuan untuk berpura-pura lemah.
